::Something about...

Foto Saya
Feby Widyanata Susilo
I wanna be Happily Ever After!!! ~^^
Lihat profil lengkapku

:: I'm on Twitter...

:: Your Comments...

Follower

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 30 April 2016

Mencari Tenang, Mencari Kesejukan Hati....

Sebagai anak yang terlahir di keluarga yang bisa dibilang dwi agama, rasa-rasanya sangat haus dengan yang namanya pelajaran agama... Bagaimana saya menjalani dua keyakinan yang pernah saya yakini dan yang saya yakini sekarang...
Banyak hal yang saya rasakan, banyak perbedaan yang saya hadapi...
Jelas berbeda sekali, keyakinan yang saya yakini sekarang dengan yang dulu...
Kalo dulu tidak berdoa, rasanya tenang saja, tapi sekarang rasanya saya merasa ada yang kurang...
Jujur saya ingin bilang
Beruntunglah teman-teman blogger yang pada dasarnya punya pendidikan agama yang pasti dari keluarga, dari lingkungan, tidak seperti saya yang mencari, yang menelaah sendiri, yang mana yang terbaik dan benar-benar membuat hati ini bergetar...
Dalam beberapa hari ini, saya benar-benar sangat-sangat rindu padaNya
Merasa sedih, merasa takut dengan banyaknya dosa, banyaknya kekhilafan yang saya lakukan...
Bahkan ibadah-ibadah malam saya tinggalkan, karena lelah bekerja
Entah apa, saya merasa kosong, merasa hampa, merasa benar-benar kehilangan satu hal yang dalam hati saya, entah itu apa...
Ternyata ada yang kurang, kekosongan itu tidak lain karena sejak bekerja, lelah bekerja, saya meninggalkan shalat Tahajjud saya, saya tidak menyandarkan diri saya padaNya...
Rasanya melebihi rasa rindu pada manusia...
Saya rindu berdialog, saya rindu memohon ampunanNya
Menyadari bahwa pemahaman agama saya masih sangat terbatas, menyadari bahwa saya tidak punya apa-apa sama sekali, menyadari bahwa saya tidak mengerti tentang hidup ini
yang tidak pernah lagi saya bagikan padaNya...
Jika ada yang tanya, bagaimana mencari ketenangan, bagaimana mencari kesejukan hati, mungkin inilah jawabannya, hanya sujud, sebatas dahi dan lantai di tiap sepertiga malam...
Hidup bukan hanya tentang dunia...
Hanya Dia Allah yang Maha Mengerti, Maha Mengetahui, tak perlulah cari yang lain....


Read more...

Selasa, 01 Maret 2016

When We Were Young

Everybody loves the things you do
Semua orang menyukai yang kau lakukan
From the way you talk
Dari caramu berbicara
To the way you move...
Hingga caramu berjalan..
Everybody here is watching you
Semua orang di sini memperhatikanmu
'Cause you feel like home
Karena kau merasa seperti di rumah
You're like a dream come true
Kau seperti mimpi yang menjadi kenyataan

But if by chance you're here alone
Tapi jika kebetulan kau ada di sini sendirian
Can I have a moment?
Bisa aku minta waktu sebentar?
Before I go?
Sebelum aku pergi?
'Cause I've been by myself all night long
Karena aku sudah sendirian sepanjang malam
Hoping you're someone I used to know
Berharap kau seseorang yang dulu ku kenal

You look like a movie
Kau terlihat seperti sebuah film
You sound like a song
Kau terdengar seperti sebuah lagu
My God
Tuhan
This reminds me, Of when we were young
Hal ini mengingatkanku, saat kita masih muda
Let me photograph you in this light
Biarkan aku memotretmu dalam cahaya ini
In case it is the last time
Dalam kejadian inilah yang terakhir kali
That we might be exactly like we were
Mungkin kita sama seperti kita dulu
Before we realized
Sebelum kita sadari
We were sad of getting old
Kita sedih menjadi tua
It made us restless
Itu membuat kami gelisah
It was just like a movie
Ini seperti sebuah film
It was just like a song
Ini seperti sebuah lagu

I was so scared to face my fears
Aku begitu takut untuk menghadapi ketakutanku
Cause nobody told me that you'd be here
Karena tak
ada yang katakan padaku bahwa kau akan berada di sini
And I swore you moved overseas
Dan aku bersumpah kau pindah ke luar negeri
That's what you said, when you left me
Itulah apa yang kau katakan, saat kau meninggalkanku

You still look like a movie
Kau masih terlihat seperti sebuah film
You still sound like a song
Kau masih terdengar seperti sebuah lagu
My God, this reminds me
Tuhan, ini mengingatkanku
Of when we were young
Saat kita masih muda

Let me photograph you in this light
Biarkan aku memotretmu dalam cahaya ini
In case it is the last time
Dalam kejadian inilah yang terakhir kali
That we might be exactly like we were
Mungkin kita sama seperti kita dulu
Before we realized
Sebelum kita sadari
We were sad of getting old
Kita sedih menjadi tua
It made us restless
Itu membuat kami gelisah
It was just like a movie
Ini seperti sebuah film
It was just like a song
Ini seperti sebuah lagu
When we were young
Saat kita masih muda
(When we were young)
(Saat kita masih muda)
When we were young
Saat kita masih muda
(When we were young)
(Saat kita masih muda)

It's hard to win me back
Sulit tuk dapatkan ku kembali
Everything just takes me back
Segalanya hanya bawaku kembali
To when you were there
Untuk saat kau ada di sana
To when you were there
Untuk saat kau ada di sana
And a part of me keeps holding on
Dan bagian dari diriku tetap bertahan
Just in case it hasn't gone
Dalam kejadian ini sudah tak ada yang bisa di perbaiki
I guess I still care
Aku rasa aku masih peduli
Do you still care?
Apakah kau masih peduli?

You look like a movie
Kau terlihat seperti sebuah film
You sound like a song
Kau terdengar seperti sebuah lagu
My God
Tuhan
This reminds me, Of when we were young
Hal ini mengingatkanku, saat kita masih muda

When we were young
Saat kita masih muda
(When we were young)
(Saat kita masih muda)
When we were young
Saat kita masih muda
(When we were young)
(Saat kita masih muda)

Let me photograph you in this light
Biarkan aku memotretmu dalam cahaya ini
In case it is the last time
dalam kejadian inilah yang terakhir kali
That we might be exactly like we were
Mungkin kita sama seperti kita dulu
Before we realized
Sebelum kita sadari
We were sad of getting old
Kita sedih menjadi tua
It made us restless
Itu membuat kami gelisah
I'm so mad I'm getting old

Aku sangat marah aku semakin tua
It made us restless
Itu membuat kami gelisah
It was just like a movie
Ini seperti film
It was just like a song
Ini seperti lagu
When we were young
Saat kita masih muda
 
Lagunyaa daleem banget sih yaa... Hahahaha....
Tapii suka aja dengernyaa....
Tiap hal dalam hidup kita tuh kadang seperti film, kadang seperti lirik lagu...
Tapi intinya cuma satu jangan lupa bahagia....
 
Read more...

Senin, 29 Februari 2016

Yang Sulit Dimengerti adalah Perempuan

Long time no see untuk blog ku, sorry agak lama baru bisa login lagi, entah kenapa coba berkali-kali buat log in, agak sulit padahal ada banyak banget puisi ato tulisan yang ingin dituangkan.
Rasanya tuh kalo abis tulis sesuatu, ngetik sih lebih tepatnya, bisa ilangin stress loh. Hahaha...
Judul postingan kali ini adalah novel karya penulis muda Kak Fitrawan Umar, yang semua cerpen, puisinya itu jadi favorit saya, yaa walau roman semesta belum saya baca sih. Saya jadi penasaran dengan novelnya, hebat yaa novelnya jadi best seller loh... Kapan ya saya juga bisa seperti dia? *ngarep*

Mungkin kurang lebih ini pendapat saya pribadi tentang novelnya,
Novelnya mungkin agak klise, tentang dunia kampus, rasanya flashback ke masa-masa kuliah, yaa memang sih saya bukan antek, tapi ya mirip lah... Hahaha...
Tiap pengumpulan waktu maba sih, saya kebanyakan kabur ke jasbog, daripada ikut begonoan, agak ngeyel saya mah orangnya...
Sebenarnya yang sulit dimengerti sih bukan sepenuhnya perempuan atuh kak..
Mungkin lebih ke keadaan... Tokoh Adel punya begitu banyak pertimbangan.
Perempuan mungkin bisa bilang "tidak", "tidak apa-apa", "tidak ada perasaan apa-apa", "aku baik-baik saja" Tapi dag selamanya seperti itu kenyataannya, itu semua bisa jadi diucapkan dengan penuh pertimbangan
Akan sangat jarang sekali kita menemukan perempuan yang to the point...
Come on, we are women....
Perempuan lebih mikir ke depan...
kembali ke novelnya, jujur agak sedikit melenceng dari ekspektasi saya, saya mengandaikan dalam novel ini akan banyak kata-kata indah seperti yang biasa saya temui di cerpen maupun puisi karya Kak Wawan, tapi agak sedikit yang saya temui, sisi keromantisan dari novelnya agak sedikit kurang bagi saya.. Hehehehe....
Kurang mewek, kurang endes kakak... Mungkin dari sisi tokoh Adel nya kurang terasa, hanya terbaca dari sepenggal suratnya...
I don't know why, tapi rasanya feelnya kurang dapat bagi saya pribadi, Pardon me kak, I'm so sorry....
Tapi selebihnya novel ini tetap keren kok, sisi budaya, sisi bahasa lebih mengantarkan budaya Bugis, Kota Makassar untuk dikenali... Tetap bangga pernah berguru dengan Kakak...
Ditunggu lagi Novel atau Karya selanjutnya Kak.... ;)

Read more...

Rindu Terdiam

Mendekap malam
aku ingin melihatmu
Hai apa kabarmu di sana?
Rindu menjalari ku
Aku tahu
Tidak lagi,
Tidak ada kesempatan lagi
Tidak ada kita
Tidak akan pernah ada
Cinta ini biarlah terpendam dalam malam
Kau mengunci semua rapat-rapat
Begitu pun aku
Tapi berharap ingatanmu
tentangku tetap sama
Aku pun tidak yakin,
Kenapa tak menyapa?
Kau terdiam, menunduk
Aku terpaku, lidahku turut kelu
Masihkah kau bisa tersenyum padaku seperti dulu?
Sudahlah...
Aku yang menyusun harapan
Aku yang meruntuhkan
Kau pun tak tahu
Biarlah...
Biarlah rindu ini terdiam


Read more...

Sabtu, 06 Februari 2016

Tau kah Kau??

Tak tau akan seperti apa....
Bagaimana...
Yang dulu dekat, kini menjauh....
Yang dulu ketawa bareng, sekarang bersapa saja canggung...
Salah dalam berpikiran, tiap orang pernah salah
Tak ada seorang manusia pun yang bersih dari kesalahan...
Jangan menghakimi seseorang karena setitik kesalahannya...
Coba dulu rasakan, dari sisi dan sudut pandang yang dia rasakan...
Terdengar egois, hanya saja tiap orang pernah khilaf
Tiap orang pernah menjadi prioritas dan kini semua itu berubah...
Semua terasa berbeda kini....
Read more...
 
 

Designed by: Compartidísimo | Brought to you by Blogger Template Place & Blogger Tutorial
Scrapping elements: Deliciouscraps©